Minggu, 13 Agustus 2023

Cara Membuat Internet Gateway Dengan MikroTik



Dalam MikroTik kita pasti sudah mengenal dengan istilah Internet Gateway (Gerbang Jaringan) yang merupakan suatu perangat yang menghubungkan jaringan komputer yang satu atau lebih jaringan komputer dengan media komunikasi yang berbeda sehinga informasi pada saat jaringan komputer di alihkan akan berbeda dengan media jaringan yang berbeda.

Gateway juga dapat di artikan sebagai komputer yang daapat menghubungkan 2 buah jaringan atau lebih karena memiliki minimal 2 buah network interface. Untuk dapat menghubungkan 2 buah jaringan yang berbeda protokol nya, gateway harus mengkonversi setiap protocol yang berbeda pada setaip jaringan komputer sehingga dapat di hubungkan satu sama lain. Gateway yang berbeda protocol tidak bisa di sambungkan karena protocolnya yang berbeda, maka secara otomatis pada saat mengirim informasi dari komputer satu dengan komputer lainnya tidak dapat di akses, maka dari itu protocol nya harus di konversi kan agar dapat lancar mengakses suatu informasi dengan mudah. Berikut Cara Membuat Internet Gateway Dengan MikroTik.

Membuat Internet Gateway


1. Pertama buka winbox, lalu pergi ke menu IP > Addresses ,kemudian kalian tambahkan di ether1 untuk IP Publik dengan menggunakan IP dari ISP kalian. Lalu kalian tambahkan lagi IP untuk ether2 terserah berapa saja asalkan network yang digunakan jangan sama dengan ether1, karena ether2 digunakan sebagai IP Lokal. Contohnya

Ether1: 192.168.100.50/24

Ether2: 192.168.50.1/24





2. Selanjutnya tambahkan DNS, kalian bisa cari di IP > DNS ,kemudian ka.lian tambahkan dibagian Servers dengan IP DNS ISP kalian atau dengan DNS Google yaitu 8.8.8.8 dan 8.8.4.4, Lalu jangan lupa ceklist bagian Allow Remote Request supaya IP Address yang ada pada interface Router selain untuk gateway juga bisa dijadikan sebagai alamat DNS Server bagi client



3. Kemudian kita atur supaya client bisa mendaptkan akses internet. Yaitu kalian pergi ke IP > Firewall lalu kalian klik dan di tab NAT dan klik icon + ,kemudian pada tab general kalian masukan ether1 pada bagian Out. Interface lalu pergi ke tab Action dan rubah isi bagian action menjadi massquerade



4. Selanjutnya kalian pergi ke IP > Routers lalu kalian tambahkan IP route baru lalu kalian ganti Dst address dan Gateway yang ada didalam tab General. Contohnya

Dst address: 0.0.0.0/0

Gateway: 192.168.100.1 (IP Gateway ISP)



5. Terakhir kalian coba test connection, setting terlebih dahulu adapter Local Area Connection yang ada di komputer kalian menggunakan IP lokal tadi dan pastikan menggunakan gateway dari ether2 lokal MikroTik tadi. Kemudian kalian coba Ping dari Client ke Server atau kalian coba buka internet menggunakan IP lokal tadi

Senin, 07 Agustus 2023

Cara Setting Routing Dinamis (RIP) di Cisco Packet Tracer (XII TKJ)



Cara Setting Routing Dinamis (RIP) di Cisco -Routing dinamis menggunakan protokol routing secara otomatis untuk memilih rute terbaik yang nantinya akan dimasukkan ke dalam tabel routing. Jadi daripada secara manual memasukkan rute statis dalam tabel routing, routing dinamis secara otomatis menerima pembaruan routing, dan secara dinamis memutuskan rute mana yang terbaik untuk masuk ke tabel routing. Hal ini merupakan sebuah pendekatan yang lebih efektif bagi jaringan sesuai dengan yang dibutuhkan. Secara umum definisi Router adalah sebuah alat pada jaringan komputer yang berfungsi untuk mengirimkan suatu paket data melewati sebuah media jaringan atau Internet menuju tujuannya, proses tersebut lebih dikenal sebagai routing.

Router memiliki fungsi sebagai sarana penghubung antara 2 atau lebih jaringan untuk bisa meneruskan data dari sebuah jaringan ke jaringan yang lainnya. Sebuah router bisa berupa suatu device yang dirancang secara khusus untuk memiliki fungsi sebagai dedicated router, atau juga bisa sebuah PC/Komputer yang digunakan sebagai router yang lebih dikenal sebagai PC Router. Manfaat yang bisa diperoleh jika menggunakan sebuah PC Router yaitu maka tidak perlu untuk membeli router tambahan sehingga akan lebih menghemat biaya.

Router Dinamis ( Dynamic router ) adalah teknik jaringan yang menyediakan routing data yang optimal. Tidak seperti statis routing, routing dinamis memungkinkan router untuk memilih jalur sesuai dengan perubahan tata letak real-time logical network. Dalam perutean dinamis, protokol perutean yang beroperasi pada perute bertanggung jawab atas pembuatan, pemeliharaan, dan pembaruan tabel perutean dinamis. Dalam perutean statis, semua pekerjaan ini dilakukan secara manual oleh administrator sistem.

Cara Setting Routing Dinamis (RIP) di Cisco

Routing dinamis menggunakan banyak algoritma dan protokol. Yang paling populer adalah Routing Information Protocol (RIP) dan Open Shortest Path First (OSPF). Adapun langkah langkah cara membuat jaringan routing dinamis dapat dilihat melalui tutorial yang dijelaskan dibawah ini.

1. Buka aplikasi Cisco Packet Tracer di komputermu, jika belum ada silahkan Download dan Install terlebih dulu.


2. Keterangan Penggunaan Kabel pada Jaringan

Untuk mengkoneksikan peralatan yang berbeda, gunakan kabel Straight-through :

Switch – Router
Hub – Router
Switch – PC
Hub – PC
Untuk mengkoneksikan peralatan yang sama, gunakan kabel Cross-Over :

Router – Router
PC – Router
Switch – Hub
Switch – Switch
3. Ketentuan Konfigurasi Interface antar device yaitu :

Router – Router : Serial (Konektor warna merah yaitu menggunakan Serial DTE)
Router – Switch : FastEthernet (Bisa menggunakan Ethernet tapi lebih direkomendasikan menggunakan FastEthernet karena lebih cepat)
Switch – PC : FastEthernet

Setelah paham mengenai beberapa ketentuan yang telah disebutkan diatas maka desain jaringan dengan menggunakan cisco packet tracer seperti contoh gambar dibawah ini :
Setelah selesai, hubungkan semua device dengan kabel yang semestinya serta aktifkan konfigurasi interface yang akan kita isi dengan pengaturan nantinya.
Catatan :
- Sterling dengan fastethernet0/0 terhubung ke Switch1 menuju PC1 dan PC2.
- Hoboken dengan fastethernet0/0 terhubung ke Switch2 menuju PC3 dan PC4.
- Waycross dengan fastethernet0/0 terhubung ke Switch3 menuju PC5 dan PC6.
- Masing masing router terhubung melalui Sterling–Hoboken= Serial 2/0 dan Hoboken–Waycross= Serial 3/0

4. Setting Fastethernet dan serial dengan cara CLI :
Router Sterling – Fastethernet 0/0 :

Router#en
Router#configure terminal
Router(config)#int f0/0
Router(config-if)#ip add 192.168.1.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Router Hoboken – Fastethernet 0/0 :

Router#en
Router#configure terminal
Router(config)#int f0/0
Router(config-if)#ip add 192.168.2.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Router Waycross – Fastethernet 0/0 :

Router#en
Router#configure terminal
Router(config)#int f0/0
Router(config-if)#ip add 192.168.3.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Setelah melakukan setting Fastethernet pada router kemudian isi konfigurasi pada serial masing masing Router.

Router Sterling – Serial 2/0 :

Router#en
Router#configure terminal 
Router(config)#int s2/0
Router(config-if)#ip add 10.10.10.1 255.0.0.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Router Hoboken – Serial 2/0 :

Router#en
Router#configure terminal 
Router(config)#int s2/0
Router(config-if)#ip add 10.10.10.2 255.0.0.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Router Hoboken – Serial 3/0 :

Router#en
Router#configure terminal 
Router(config)#int s3/0
Router(config-if)#ip add 11.11.11.1 255.0.0.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Router Waycross- Serial 3/0 :

Router#en
Router#configure terminal 
Router(config)#int s3/0
Router(config-if)#ip add 11.11.11.2 255.0.0.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#ex 

Pada saat menghubungkan serial, Router Sterling dengan serial 2/0 dan Hoboken serial 2/0, hal ini harus satu Jaringan tetapi harus berbeda hostnya dengan ketentuan harus membedakan IP kelasnya. Setting konfigurasi seperti di atas merupakan contoh sederhana agar lebih mudah untuk diingat.

Setelah selesai setting koneksi antar Router dan switch, Berikutnya yaitu melakukan pengaturan IP pada PC1, PC2, PC3, PC4, PC5 dan PC6

5. Setting IP pada masing masing perangkat yang akan dihubungkan

Fastethernet untuk Default Gateway pada PC 1 harus diisi dengan konfigurasi IP Fastethernet Router Sterling karena pada PC1, PC2 Terhubung ke Router Sterling melaui switch. Begitu juga dengan PC3, PC4 dengan Hoboken, dan PC5, PC6 dengan Waycross.


PC 1

IP Address : 192.168.1.2
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.1.1

PC 2

IP Address : 192.168.1.3
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.1.1

PC 3

IP Address : 192.168.2.2
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.2.1

PC 4

IP Address : 192.168.2.3
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.2.1

PC 5

IP Address : 192.168.3.2
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.3.1

PC 6

IP Address : 192.168.3.3
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.3.1 
Konfigurasi di atas dapat dilakukan dengan mudah melalui pengaturan yang terdapat pada :
Pilih PC > masuk ke Desktop > IP Configuration

6. Setelah selesai melakukan konfigurasi pada device yang akan terhubung, kini tinggal Setting IP Route (DINAMIC). Pengaturan ini dibutuhkan ketilitian sehingga jaringan dapat berjalan dengan normal.

Selanjutnya yaitu melakukan konfigurasi IP Route (RIP) yang mana pada RIP Versi 1, tidak mengenal dengan yang namanya subnet mask, namun nantinya pada Versi yang ke 2 sudah mengenal dengan Subnet Mask

Setelah memahami penjelasan yang telah disebutkan diatas berikut ini merupakan konfigurasi pengaturan IP Route Statis : Network yang terdapat pada pengaturan konfigurasi RIP nantinya diisi dengan menggunakan IP Serial serta Fastethernet yang terdapat didalam router itu sendiri, yaitu Host Terkecil yang mana diisi dengan 0. Contoh : pada Router Sterling terdapat 2 IP yaitu :

- f0/0 : 192.168.1.1 lalu diisi dengan 192.168.1.0
- S2/0 : 10.10.10.1 lalu diisi dengan 10.10.10.0

Untuk memahami lebih lanjut dapat dilihat keterangan seperti gambar dibawah ini.



Berikut ini merupakan konfigurasi RIP Router Dinamis melalui CLI :

Setting IP Route Sterling :

Router>en
Router#configure terminal 
Router(config)#router rip
Router(config-router)#network 192.168.1.0
Router(config-router)#network 10.10.10.0

Setting IP Route Hoboken :

Router>en
Router#configure terminal 
Router(config)#router rip
Router(config-router)#network 10.10.10.0
Router(config-router)#network 192.168.2.0
Router(config-router)#network 11.11.11.0

Setting IP Route Waycross :

Router>en
Router#configure terminal 
Router(config)#router rip
Router(config-router)#network 192.168.3.0
Router(config-router)#network 11.11.11.0 

Setelah selesai melakukan konfigurasi Dinamic Router berikutnya yaitu melakukan pengtesan dengan cara ping IP Address di PC. Sebagai contoh dibawah ini dapat dilihat ping antar PC/Laptop yang telah sukses terhubung.

Selain itu berikut ini juga dapat dilihat cara melakukan test koneksi dengan mengirimkan simulasi pesan, yang jika sudah terhubung maka pesan akan terkirim dan terdapat tulisan sucess sebagai indikasinya.



Konfigurasi Routing Static di Cisco Packet Tracer (XII TKJ)



Secara umum definisi Router adalah sebuah alat pada jaringan komputer yang berfungsi untuk mengirimkan suatu paket data melewati sebuah media jaringan atau Internet menuju tujuannya, proses tersebut lebih dikenal sebagaI Routing.

Router memiliki fungsi sebagai sarana penghubung antara 2 atau lebih jaringan untuk bisa meneruskan data dari sebuah jaringan ke jaringan yang lainnya. Sebuah router bisa berupa suatu device yang dirancang secara khusus untuk memiliki fungsi sebagai dedicated router, atau juga bisa sebuah PC/Komputer yang digunakan sebagai router yang lebih dikenal sebagai PC Router. Manfaat yang bisa diperoleh jika menggunakan sebuah PC Router yaitu maka tidak perlu untuk membeli router tambahan sehingga akan lebih menghemat biaya.

Default Gateway : Supaya sebuah Router bisa meneruskan data dengan tepat, komputer yang terdapat pada jaringan itu harus menugaskan router tersebut untuk meneruskan data yang dikirimkan. Penugasan itu dilakukan dengan menambahkan pengaturan komputer default gateway ke router yang dimaksudkan. Jika tidak melakukan pengaturan default gateway maka bisa dipastikan jaringan LAN itu tidak dapat terkoneksi dengan jaringan yang lain. Penjelasan tersebut merupakan beberapa pengertian dari kumpulan dalam konfigurasi pada router statis.
Cara Konfigurasi Routing Static di Cisco Packet Tracer
1. Buka aplikasi Cisco Packet Tracer di komputermu, jika belum ada silahkan Download dan Install terlebih dulu.


2. Keterangan Penggunaan Kabel pada Jaringan

Untuk mengkoneksikan peralatan yang berbeda, gunakan kabel Straight-through :Switch – Router
Hub – Router
Switch – PC
Hub – PC

Untuk mengkoneksikan peralatan yang sama, gunakan kabel Cross-Over :Router – Router
PC – Router
Switch – Hub
Switch – Switch

3. Ketentuan Konfigurasi Interface antar device yaitu :Router – Router : Serial (Konektor warna merah yaitu menggunakan Serial DTE)
Router – Switch : FastEthernet (Bisa menggunakan Ethernet tapi lebih direkomendasikan menggunakan FastEthernet karena lebih cepat)
Switch – PC : FastEthernet

Setelah paham mengenai beberapa ketentuan yang telah disebutkan diatas maka desain jaringan dengan menggunakan cisco packet tracer seperti contoh gambar dibawah ini :



Setelah selesai, hubungkan semua device dengan kabel yang semestinya serta aktifkan konfigurasi interface yang akan kita isi dengan pengaturan nantinya.

Catatan :Sterling dengan fastethernet0/0 terhubung ke Switch1 menuju PC1 dan PC2.
Hoboken dengan fastethernet0/0 terhubung ke Switch2 menuju PC3 dan PC4.
Waycross dengan fastethernet0/0 terhubung ke Switch3 menuju PC5 dan PC6.
Masing masing router terhubung melalui Sterling–Hoboken= Serial 2/0 dan Hoboken–Waycross= Serial 3/0

4. Setting Fastethernet dan serial dengan cara CLI :



Router Sterling – Fastethernet 0/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
Router(config)#int f0/0 
Router(config-if)#ip add 192.168.1.1 255.255.255.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Router Hoboken – Fastethernet 0/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
Router(config)#int f0/0 
Router(config-if)#ip add 192.168.2.1 255.255.255.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Router Waycross – Fastethernet 0/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
Router(config)#int f0/0 
Router(config-if)#ip add 192.168.3.1 255.255.255.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Setelah melakukan setting Fastethernet pada router kemudian isi konfigurasi pada serial masing masing Router.




Router Sterling – Serial 2/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
 Router(config)#int s2/0 
Router(config-if)#ip add 10.10.10.1 255.0.0.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Router Hoboken – Serial 2/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
 Router(config)#int s2/0 
Router(config-if)#ip add 10.10.10.2 255.0.0.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Router Hoboken – Serial 3/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
 Router(config)#int s3/0 
Router(config-if)#ip add 11.11.11.1 255.0.0.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Router Waycross- Serial 3/0 :
Router#en 
Router#configure terminal 
 Router(config)#int s3/0 
Router(config-if)#ip add 11.11.11.2 255.0.0.0 
Router(config-if)#no shut 
Router(config-if)#ex

Pada saat menghubungkan serial, Router Sterling dengan serial 2/0 dan Hoboken serial 2/0, hal ini harus satu Jaringan tetapi harus berbeda hostnya dengan ketentuan harus membedakan IP kelasnya. Setting konfigurasi seperti di atas merupakan contoh sederhana agar lebih mudah untuk diingat.

Setelah selesai setting koneksi antar Router dan switch, Berikutnya yaitu melakukan pengaturan IP pada PC1, PC2, PC3, PC4, PC5 dan PC6

5. Setting IP pada masing masing perangkat yang akan dihubungkan

Fastethernet untuk Default Gateway pada PC 1 harus diisi dengan konfigurasi IP Fastethernet Router Sterling karena pada PC1, PC2 Terhubung ke Router Sterling melaui switch. Begitu juga dengan PC3, PC4 dengan Hoboken, dan PC5, PC6 dengan Waycross.




PC 1 
IP Address : 192.168.1.2
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.1.1

PC 2 
IP Address : 192.168.1.3
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.1.1

PC 3 
IP Address : 192.168.2.2
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.2.1

PC 4 
IP Address : 192.168.2.3
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.2.1

PC 5 
IP Address : 192.168.3.2
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.3.1

PC 6 
IP Address : 192.168.3.3
Subnet Mask : 255.255.255.0
Default Getway : 192.168.3.1

Konfigurasi di atas dapat dilakukan dengan mudah melalui pengaturan yang terdapat pada :
Pilih PC > masuk ke Desktop > IP Configuration

6. Setelah selesai melakukan konfigurasi pada device yang akan terhubung, kini tinggal Setting IP Route (STATIC). Pengaturan ini dibutuhkan ketilitian sehingga jaringan dapat berjalan dengan normal.

Network diisi dengan IP Tujuan dengan Host yang Terkecil yaitu 0. Sebagai contohnya untuk menuju Router Waycross, Router Waycross memiliki IP Fastethernet : 192.168.3.1, Jadi Penulisannya : 192.168.3.0 . Kemudian Netmask diisi mengikuti Network Apabila Kelas C diisi dengan 255.255.255.0. Next Hop diisi dengan serial yang terdekat dari Router itu sendiri Serial Pertama yang dilewati setelah keluar dari jalur router itu tersebut).

Setelah memahami penjelasan yang telah disebutkan diatas berikut ini merupakan konfigurasi pengaturan IP Route Statis :





Setting IP Route Sterling:
Router#en 
Router#configure terminal 
 Router(config)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.0 10.10.10.2 
 Router(config)#ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 10.10.10.2

Setting IP Route Hoboken :
Router#en 
Router#configure terminal 
 Router(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 10.10.10.1 
 Router(config)#ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 11.11.11.2

Setting IP Route Waycross:
Router#en 
Router#configure terminal 
Router(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 11.11.11.1 
Router(config)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.0 11.11.11.1

Setelah selesai melakukan konfigurasi Static Router berikutnya yaitu melakukan pengtesan dengan cara ping IP Address di PC. Sebagai contoh dibawah ini dapat dilihat ping antar PC/Laptop yang telah sukses terhubung.





Selain itu berikut ini juga dapat dilihat cara melakukan test koneksi dengan mengirimkan simulasi pesan, yang jika sudah terhubung maka pesan akan terkirim dan terdapat tulisan sucess sebagai indikasinya.




Pastikan untuk membuka file tersebut menggunakan Cisco versi terbaru. Setelah dibuka tunggu beberapa saat hingga device siap digunakan. Setelah itu baru bisa dilakukan test apakah jaringan tersebut sudah terkonfigurasi dengan benar.

Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan cara diatas ini maka koneksi komunikasi data pada jaringan sudah berhasil dan benar.

Routing dan Jenis Jenisnya (XII TKJ)







Routing adalah inti dari proses koneksi jaringan internet. Namun, istilah ini belum familiar dikenal atau diketahui oleh semua orang.

Padahal, hampir seluruh lapisan masyarakat merupakan pengguna internet. Koneksi jaringan internet yang terhubung dengan gadget adalah bantuan dari proses routing.

Alat yang digunakan sebagai wadah routing internet disebut router. Dengan adanya alat tersebut, maka akan membantu kamu untuk mencari jalur routing yang paling cepat. Sehingga, kamu bisa terkoneksi dengan internet.

Routing adalah Pengertian dari?
Mengutip Webopedia, routing atau yang biasa disebut dengan perutean merupakan proses pemindahan paket data dari sumber ke tujuan. Routing dapat diterapkan dalam jaringan yang banyak, seperti jaringan circuit-switched dan jaringan komputer.

Proses ini biasanya dilakukan oleh perangkat khusus yang dikenal sebagai router. Kemudian, router akan memilih jalur untuk paket Internet Protocol (IP) untuk melakukan perjalanan dari tempat asalnya ke tujuan berdasarkan informasi sesuai tabel routing.

Saat paket berjalan ke tujuannya, paket tersebut dapat dirutekan beberapa kali oleh router. Sehingga, router melakukan proses ini jutaan kali per detik dengan jutaan paket.

Jenis-jenis Routing
Mengutip dari Geeks for Geeks, ada tiga jenis routing yang perlu kamu ketahui, yaitu:

1. Static Routing
Static routing merupakan jenis routing yang rutenya ditambahkan secara manual ke dalam tabel routing. Keuntungan dari jenis routing ini adalah hanya administrator yang dapat mengizinkan routing ke jaringan tertentu saja. Sehingga, keamanan jenis routing ini terjamin.

Namun, jaringan yang lebih besar merupakan tugas berat bagi administrator untuk menambahkan setiap rute pada jaringan di tabel routing dan setiap router secara manual.


Sehingga, administrator tersebut harus memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai routing topologi.



2. Default Routing
Jenis ini merupakan metode di mana router dikonfigurasikan untuk mengirim semua paket ke satu router. Sehingga, tidak masalah apabila keberadaan paket tersebut di dalam jaringan mana saja. Hal itu diteruskan ke router yang dikonfigurasi untuk perutean default. Kemudian, paket tersebut diteruskan ke router yang dikonfigurasi untuk perutean default.


3. Dynamic Routing

Dynamic routing merupakan perutean dinamis yang membuat penyesuaian otomatis berdasarkan situasi dan kondisi jalur di tabel routing. Jenis routing ini menggunakan protokol untuk menemukan tujuan jaringan dan rute untuk mencapainya.

Keuntungan dari jenis routing ini adalah memberikan kemudahan konfigurasinya karena otomatis. Selain itu, pemilihan jalur atau rute menjadi lebih efektif.

Namun, jenis routing ini membutuhkan bandwidth yang lebih besar. Untuk masalah keamanannya juga lebih rendah dibanding static routing.


Selasa, 25 Juli 2023

FIBER OPTIK XII TKJ

Pengertian Fiber Optik, Fungsi, Jenis, Cara Kerja, dan Komponennya

Pengertian Fiber Optik – Serat optik/ kabel optik/ fiber optik adalah jenis kabel yang dapat mengubah sinyal listrik menjadi cahaya dan mengalirkannya dari suatu titik ke titik lainnya.

Jenis kabel transmisi ini sering digunakan untuk jaringan internet karena mendukung proses tranmisi yang sangat cepat.

Di artikel ini dibahas materi tentang fiber optik secara lengkap, mulai dari pengertiannya, fungsi, cara kerja, hingga kelebihan dan kekurangan fiber optik.
Pengertian Fiber Optik

Apa itu fiber optik? Pengertian fiber optik adalah suatu jenis kabel yang terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat halus, dan digunakan sebagai media transmisi karena dapat mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu lokasi ke lokasi lainnya dengan kecepatan tinggi.

Ukuran fiber optik ini sangat kecil dan halus (diameternya hanya 120 mikrometer), bahkan lebih kecil dari helaian rambut manusia. Komponen jaringan ini memiliki kecepatan transmisi yang tinggi dengan menggunakan pembiasan cahaya sebagai prinsip kerjanya. Sumber cahaya yang digunakan untuk proses transmisi adalah laser atau LED.

Fiber optik atau serat optik menjadi salah satu komponen yang cukup populer dalam dunia telekomunikasi belakangan ini. Pasalnya, kabel jaringan tersebut memiliki kecepatan akses yang tinggi sehingga banyak digunakan sebagai saluran komunikasi.
Jenis-Jenis Kabel Fiber Optik

Setelah memahami apa pengertian fiber optik, selanjutnya kita juga perlu mengetahui apa saja jenisnya. Fiber optik dibedakan menjadi dua jenis yang didasarkan pada mode transmisinya. Adapun jenis fiber optik yaitu:
1. Fiber Optik Single Mode

Kabel fiber optik single mode yaitu kabel jaringan yang memiliki transmisi tunggal, sehingga hanya bisa menyebarkan cahayanya hanya melalui satu inti dalam suatu waktu.

Jenis fiber optik ini memiliki inti berukuran kecil dengan diameter sekitar 9 mikrometer yang digunakan untuk mentransmisikan gelombang cahaya dari sinar inframerah dengan panjang gelombang 1300-1550 nanometer.
2. Fiber Optik Multimode

Kabel fiber optik multimode merupakan kabel yang dapat mentransmisikan banyak cahayan dalam waktu bersamaan karena memiliki ukuran inti besar yang memiliki diameter sekitar 625 mikrometer.

Kabel jenis ini biasanya digunakan untuk keperluan komersial yang pada umumnya diakses banyak orang. Fiber optik ini mengirimkan sinar inframerah yang memiliki panjang 850-1300 nanometer.
Tipe Kabel Fiber Optik

Berikut ini adalah beberapa tipe kabel fiber optik yang umum digunakan:Tight Buffer (Indoor/Outdoor)
Breakout Cable (Indoor/Outdoor)
Aerial Cable/Self-Supporting
Hybrid & Composite Cable
Armored Cable
Low Smoke Zero Halogen (LSZH)
Simplex cable
Zipcord cable

VariabelSingle-ModeMulti-ModeBesar diameter core 5-10 mikrometer 50, 62.5 dan 100 mikrometer
Jenis cahaya Laser infrared LED
Banyak pancaran cahaya Satu Beberapa
Jenis pancaran cahaya 1319 dan 1510 Nanometer 850 dan 1300 nanometer

Jarak pancaran cahaya 30-100 kilometer 500 meter - 2 Kilometer
Bandwidth Up to 10 Gbps Up to 1Gbps
Biaya Cenderung lebih mahal Cenderung lebih murah

Fungsi Fiber Optik / Serat Optik

Mengacu pada pengertian fiber optik di atas, fungsi serat optik pada dasarnya sama seperti kabel lainnya, yaitu untuk menghubungkan antar komputer dalam suatu jaringan komputer.

Letak perbedaan antara fiber optik dengan jenis kabel lainnya adalah kemampuannya dalam memberikan kecepatan tinggi dalam hal akses dan transfer data. Selain itu, serat optik juga tidak mengalami gangguan elektromagnetik seperti halnya kabel lainnya karena pada kabel ini tidak terdapat arus listrik.

Selain karena kelebihan fiber optik tersebut proses instalasi juga harus dilakukan oleh para ahli sehingga membuat biaya instalasinya menjadi lebih mahal. Pada umumnya perusahaan operator telekomunikasi lebih memilih memakai kabel fiber optik karena berbagai kelebihannya tersebut.
Komponen Fiber Optik


Fiber optik terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Berikut ini adalah beberapa bagian kabel fiber optic:

1. Bagian Inti (Core)
Bagian inti fiber optik terbuat dari bahan kaca dengan diameter yang sangat kecil (diamaternya sekitar 2 μm sampai 50 μm). Diameter serat optik yang lebih besar akan membuat performa yang lebih baik dan stabil.

2. Bagian Cladding
Bagian cladding adalah bagian pelindung yang langsung menyelimuti serat optik. Biasanya ukuran cladding ini berdiameter 5 μm sampai 250 μm.

Cladding terbuat dari bahan silikon, dan komposisi bahannya berbeda dengan bagian core. Selain melindungi core, cladding juga berfungsi sebagai pemandu gelombang cahaya yang merefleksikan semua cahaya tembus kembali kepada core.

3. Bagian Coating / Buffer
Bagian coating adalah mantel dari serat optik yang berbeda dari cladding dan core. Lapisan coating ini terbuat dari bahan plastik yang elastis.

Coating berfungsi sebagai lapisan pelindung dari semua gangguan fisik yang mungkin terjadi, misalnya lengkungan pada kabel, kelembaban udara dalam kabel.

4. Bagian Strength Member & Outer Jacket
Lapisan ini merupakan bagian yang sangat penting karena menjadi pelindung utama dari sebuah kabel fiber optik. Lapisan strength member dan outer jacket adalah bagian terluar dari fiber optik yang melindungi inti kabel dari berbagai gangguan fisik secara langsung.
Prinsip Kerja Fiber Optik

Seperti yang telah disinggung pada sub-bab pengertian fiber optik di atas bahwa prinsip kerja dari kabel ini berbeda dengan kabel pada umumnya. Pada kebanyakan kabel, data ditransmisikan menggunakan aliran listrik, namun pada fiber optik menggunakan aliran cahaya yang dikonversikan dari aliran listrik sehingga tidak akan terganggu oleh adanya gelombang elektromagnetik.

Fiber optik memanfaatkan serat kaca sebagai bahan penyusunnya untuk mendapatkan refleksi atau pantulan cahaya total yang tinggi dari cermin tersebut sehingga data akan ditransmisikan dengan cepat pada jarak yang tidak terbatas. Pantulan tersebut didapatkan melalui cahaya yang berjalan pada serat kaca dengan sudut yang rendah.

Selain itu, dalam proses kerjanya, efisiensi dari pantulan cahaya dipengaruhi oleh kemurnian bahan fiber optik dimana semakin murni bahan gelas yang digunakan maka penyerapan cahaya yang semakin sedikit oleh fiber optik. Minimnya penyerapan tersebut akan menghasilkan pantulan cahaya yang tinggi.
Kelebihan dan Kekurangan Fiber Optik

Seperti yang telah disebutkan pada penjelasan pengertian fiber optik di atas, kabel ini memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan jenis kabel lainnya. Namun, selain memiliki kelebihan, kabel serat optik juga memiliki kekurangan.

1. Kelebihan Fiber Optik
a. Memiliki kecepatan transmisi yang tinggi dengan kapasitas mencapai 1 GB/detik
b. Dapat mentransmisikan data dengan jarak yang cukup jauh tanpa adanya bantuan penguat sinyal
c. Bahannya terbuat dari kaca dan plastik sehingga tahan terhadap karat
d. Ukuran kabel sangat kecil dan fleksibel
e. Kabel ini memanfaatkan gelombang cahaya sehingga tidak terganggu oleh adanya gelombang            elektromagnetik seperti gelombang radio
f. Fiber optik tidak mengandung aliran listrik sehingga mencegah terjadinya kebakaran akibat                 konsleting
g. Memiliki keamanan tinggi karena minim distorsi

2. Kekurangan Fiber Optik
a. Biaya instalasi dan perawatan cenderung lebih mahal daripada jenis kabel lainnya
b. Membutuhkan sumber cahaya yang kuat
c. Kabel harus dipasang dengan jalur berbelok untuk memaksimalkan kecepatan dan kelancaran             transmisi cahaya.

Senin, 24 Juli 2023

Pengalamatan Jaringan VLSM atau Variable Length Subnet Mask




VLSM atau variable length subnet mask adalah jenis perhitungan subnetting dimana panjang subnet mask yang kita berikan akan disesuikan dengan banyaknya jumlah host di setiap subnet tersebut.

Belajar VLSM kali ini tidaklah sulit, karena intinya: cara perhitungannya sama saja dengan yang sudah kita bahas di materi belajar subnetting sebelumnya.

Cuma beda dikit aja, serius.

Saya yakin kamu akan sangat mudah memahami materi VLSM kali ini. Kecuali kamu memang tidak mengikuti bab ip addressing ini dari awal.

Ada 2 teknik perhitungan subnetting:FLSM: fixed length subnet mask. Satu network, kita pecah-pecah menjadi beberapa network (subnet) dimana setiap lebar subnet yang satu sama dengan lebar subnet yang lainnya.
VLSM: variable length subnet mask. Kebalikannya, sebuah network yang kita subnet, menghasilkan subnet-subnet yang berbeda panjang subnet masknya antara subnet satu dengan yang lain.

Nah, yang kita bahas sebelumnya itu adalah teknik FLSM. Nanti akan kita ulas lagi perbedaan antara FLSM dan VLSM.

Tapiiii… disini saya tidak akan bahas lagi tata cara perhitungannya. Kita akan lebih mempelajari cara pemetaan (design subnet) jaringan yang efektif dan mudah dalam pengembangannya.



Sebagai permulaan, ini topologi yang akan kita bahas.




Ada 3 network di topologi tersebut:Workstation LAN: di kaki e0/0 Router01 menuju switch yang terhubung ke client-client, sebanyak 50 hosts.
Point-to-Point WAN: di kaki s1/0 Router01 menuju kaki s1/0 Router02, cuma butuh 2 hosts.
Server-LAN: di kaki e0/0 Router02 menuju ke server-server yang banyaknya 12 hosts.

Walau sebenarnya jarang ada topologi seperti ini, sengaja kita pakai untuk belajar dasar perhitungan VLSM saja. Dikatakan point-to-point WAN: seperti kita ingin menghubungkan 2 gedung, dengan 2 router dedicated di gedung tersebut.
Tapi gedung Router02 isinya server-server (seharusnya ada switch disana).
Sedang gedung Router01 untuk workstation, para karyawan.

Jelas ya? Mari kita mulai.
1. Teknik Subnetting dengan FLSM (Fixed Length Subnet Mask)

Dari ip space 192.168.10.0/24, berarti kita punya 254 lebar host yang bisa dihitung-hitung (dialokasikan). Nah kalau FLSM, lebar setiap subnet yang kita buat nanti, sama semua.

Disana kan cuma ada 3 network.

Dari 192.168.10.0/24 dibagi menjadi 3 network, kita bisa pakai:/26 untuk setiap subnet (workstation LAN, point-to-point, server LAN), sama semua. Lebar host dari /26 adalah 64, dengan 62 valid host. Ya kan?
/24 akan habis jika dipakai 4x /26. Sedang kebutuhan network kita cuma 3, berarti ada satu block /26 yang tersisa, bisa digunakan juga untuk spare.




Masih bingung cara menghitungnya? Mari kita ulas.

a. Menentukan subnet mask untuk kebutuhan jumlah host

“Bro, gedung Router01 ntar yang paling banyak jumlah hostnya. Karena karyawan disana semua, kira-kira sebanyak 50 hosts.”

“Di gedung Router02 isinya cuma server-server, sekitar 12 an server, tapi ini kita pasangin router dedicated aja. Nanti ada satu network point to point buat hubungin ke gedung Router01”

Dari percakapan ini, fokus kita ke workstation LAN yang isinya 50 hosts. Nah berapa subnet mask yang panjang hostnya sampai 50?

Biar gampang, kita pakai tabel sakti.




Dengan /26, kita punya lebar host 62 yang bisa dipakai. Dari kebutuhan 50, masih ada 12 ip nanti yang sisa. Cukup bagus buat spare, ya kan?

b. Ini perhitungannya

Well, saya tidak ingin menyesatkan pola belajar kamu dengan tabel itu. Minimal kamu harus sudah tau cara perhitungannya, karena tabel tersebut cuma memudahkan saja, bukan jadi bocoran.
2 pangkat berapa (y) yang jumlahnya mencukupi 64 host?

Ingat di materi subnetting sebelumnya, untuk mencari tahu jumlah host dan subnet masknya, kita gunakan rumus 2^y-2. Dimana y adalah bit host yang aktif.

2^y-2 sama dengan atau lebih dari 64 host?

Jawabannya adalah 2 pangkat 6 = 64 (kurang 2 untuk broadcast address dan network address).

Alias 1100.0000 = 64 bit host yang on di oktet ke 4.
Berapa subnet masknya?

Setelah itu sudah kita cari tahu subnet masknya dengan rumus 256 – jumlah host yang diketahui tadi. Berarti 256 – 64 = 192.

Di oktet 4, inget, kelas C. Berarti 255.255.255.192.
c. Subnet yang terbentuk

Karena FLSM, perhitungan selesai. Kita gunakan 255.255.255.192 alias /26 untuk setiap subnet, semuanya sama.Valid host: 62 host
Interval / block size = 64
Subnet mask = 255.255.255.192




2. Teknik Subnetting FLSM Bagian 2

Karena /24 bisa habis dengan 4x /26, sedang yang kita gunakan cuma 3 block subnet. Maka masih sisa 1 lagi /26 dengan alamat network 192.168.10.192/26.

“Bro, nanti kemungkinan besar ada penambahan network lagi”.

Yes, ini harus benar-benar dipertimbangkan saat mensubnet network.

Nah, dari topologi yang udah kita design diatas, efektif engga sih jika spare address tadi berada di block subnet terakhir (ke empat)?

Jawabannya, sah sah saja. Tapi akan lebih efektif kita tempatkan di block ke 2 setelah workstation LAN (dengan asumsi penambahan karyawan yang peluang penambahannya lebih besar).

Selain itu, pertimbangannya adalah kemudahan routing (summarization yang akan kita bahas nanti) karena jika block nya lompat, maka route summarization akan sulit dilakukan.




Perhatikan urutan subnetnya, ada perubahan. Walau subnet mask tiap subnet masih tetap sama panjang.

So, nantinya Router02 hanya akan mengenali LAN di network Router01 sebagai satu block subnet 192.168.10.0/25 (dengan lebar 126 host).

2x /26 kalau disatukan menjadi sebuah network, jadinya /25, ya kan?

Dah.. ini bayang-bayang saja, nanti kita bahas.
2. Keuntungan Menggunakan VLSM

Perlu saya sampaikan, antara VLSM dan FLSM, tidak ada yang lebih baik. Semuanya tergantung design jaringan yang kita buat.Jaringan LAN enterprise A dengan kelas A address: 10.0.0.0/8.
Punya beberapa site, site A, site B, site C, dan seterusnya.
Dari global ip space 10.0.0.0/8 tadi disubnet menjadi beberapa site menggunakan FLSM (biasanya).
Tapi tiap site, mereka pasti akan membuat subnet untuk network mereka.
Nah subnet tiap site didesign dengan VLSM.

Okay, perlahan nanti akan kamu lihat design jaringan yang saya sebutkan diatas. Dibawah nanti akan saya berikan salah satu contohnya.

Sekarang pertanyaannya, kenapa VLSM itu diperlukan?

Perhatikan topologi yang udah kita bahas diatas.

Maka pertanyaannya kita balik: “untuk apa network point-to-point menggunakan /26?”

Jumlah host yang dibutuhkan kan cuma 2, berarti terbuang sebanyak 60 ip address. Sayang banget kan???

… nantinya akan menjadi masalah, ketika network sudah routed, ternyata ip address kurang. Karena tidak segampang itu mengubah skema pengelamatan jaringan yang sudah live.

Semuanya harus diganti, routing diubah, alamat-alamat server akan diubah, ribet. Maka sangat penting mengalokasikan subnet mask yang sesuai untuk tiap subnetwork.
3. Cara Menghitung VLSM

Menghitung VLSM ga susah! Kecuali kamu benar-benar tidak mengikuti bab ip addressing ini dari awal.Subnet dihitung dari kebutuhan host terbesar. (Kebutuhan hostnya diurutkan)
Jika FLSM, masalah selesai. Semua network dikasih sama panjang.
Tapi di VLSM, tiap subnet akan dihitung lagi.
Networknya mengikuti dari subnet yang sudah dihitung sebelumnya.

Kita kembali ke topologi diatas. Jika didesign dengan VLSM, maka hasilnya kira-kira seperti ini.

Satu-satu dulu deh.
a. Perhitungan VLSM dasar




Network tadi akan kita urutkan terlebih dahulu:Workstation LAN, paling banyak, yaitu 50 host. Menggunakan /26 dengan alamat network 192.168.10.0/26.
Server-LAN, kedua, ada 12 host. Menggunakan /28 (karena punya 14 valid host). Dengan alamat network 192.168.10.64/28.
Point-to-point WAN, terakhir, cuma ada 2 host, cukup dengan /30. Dengan alamat network 192.168.10.80/30.
Kalau ada network lagi, berarti bisa pakai network mulai dari 192.168.10.84 (akhir dari network point to point WAN).

Nah, tidak ada bedanya (perhitungannya). Cuma beda pengalokasian saja.

Karena di VLSM, sisa network jadi banyak, lihat di topologi block hijau, yaitu sisa alamat ip yang bisa digunakan (Bisa disubnet lagi).

(Kamu akan sulit memahami sisa ip address diatas kalau belum paham range host valid tiap slash subnet).
b. Perhitungan VLSM lanjutan

Design yang kita buat diatas masih sedikit kurang efektif. (Tapi kalau ada soal seperti ini, jawaban diatas udah paling bener).

Kita tidak sedang belajar untuk menjawab soal perhitungan VLSM, tapi teknik skema pengalamatan jaringan. Kalau mau belajar perhitungan dasar subnetting silakan balik ke bab sebelumnya.

Okay, ini cara yang lebih baik.Kita kan butuh 3 network. Punya space address 192.168.10.0/24
Hitung dari turunan /24, yaitu /25, 26, dan seterusnya.
Kalau /25, kita bisa bagi 2, kalau /26 kita bisa bagi 4, kalau /27, kita bisa bagi 8, dan seterusnya.
Tapi LAN workstation ga mungkin dikasih dibawah /26, karena butuh paling tidak 50 host.

Jadinya perhitungan kita ubah seperti ini :Space address 192.168.10.0/24 tadi kita pecah jadi 2 block subnet besar, masing-masing /25.Workstation LAN: 192.168.10.0/25
Server LAN dan WAN: 192.168.10.128/25
Server LAN dan WAN kita pisahkan lagi dari total ip space 192.168.10.128/25.Server LAN: 192.168.10.128/26
WAN: 192.168.10.192/26

Maka topologi yang kita buat jadinya seperti berikut:




Silakan diamati topologinya.

Alasan kenapa dibuat seperti itu, ya jawabannya adalah efisiensi routing kedepannya. Alokasi subnet tidak lompat-lompat.

Ini intinya: bagilah global space ip address dengan FLSM menjadi sedikit jumlah network besar, lalu VLSM subnet-subnet tersebut untuk membentuk network yang lebih kecil setiapnya.
c. Pengalokasian sisa ip address

Mulai sekaran, kalau ada yang nanya “bagus VLSM atau FLSM?”. Jawab saja, “engga ada”. Ga bisa dibandingkan. Pertama, pakei FLSM untuk subnet besar, selanjutnya subnet besar itu disubnet lagi sesuai kebutuhan host dengan VLSM.

Oh ya, manakala network tadi mau berkembang, sudah enak. Jadi seperti ini.




4. Design Subnet yang Efektif dengan VLSM dan FLSM


Kalau kamu masih ingat dengan tahapan membuat subnet yang kita bahas di bab sebelumnya, maka design yang kita buat diatas juga masih belum sempurna.

Disana sudah dijelaskan bahwa ketika membuat subnet:Bedakan network LAN dan WAN
Bisa dengan 1 kelas ip, asal jauh jaraknya
… atau bedakan kelas ip addressnya.

Kalau kamu perhatikan topologi yang kita bahas tadi. Permasalahan alokasi ip address disebabkan karena kita menggabungkan alokasi untuk network LAN dan network point-to-point WAN.

Jadinya kepotong, ya kan.

Jujur saya katakan, kalau kamu mengerjakan lab exploration CCNA, disana kamu akan banyak sekali melihat skema ip address untuk jaringan yang luas, skala enterprise.

Ini salah satu contohnya.






Perhatikan, disana dibedakan network untuk LAN, WAN, maupun internet.

Kalau kamu engga coba lab-lab diatas, sayang banget. Darisana kamu bisa belajar bener-bener VLSM hingga bener-bener mahir, hingga teknik routing dan summarizationnya.

Saya nol pengalaman dan bukan network engineer saat belajar dengan lab tersebut.

Setelah berkesempatan menghandle jaringan enterprise beberapa perusahaan, skemanya ya seperti itu juga. Lucky me i’ve learned them!
Simpulan

Sekian mengenai belajar VLSM. Mudah-mudahan cukup menjelaskan teknik design / pengalamatan ip jaringn komputer.

Di bab berikutnya kita akan belajar mengenai summarization atau yang dikenal dengan supernetting.

Senin, 15 Mei 2023

Pengkabelan

Dalam suatu jaringan komputer terdapat beberapa komponen pendukung seperti host/komputer pengguna, server, switch beserta kabel sebagai penghubung dan menyalurkan data. Sampai saat ini terdapat beberapa jenis kabel yang biasanya digunakan dalam instalasi jaringan komputer seperti kabel Coaxial dan Twisted.

Untuk 2 jenis kabel tersebut mungkin yang paling banyak digunakan dari dulu hingga saat ini. Namun seiring kemajuan zaman, masyarakat menginginkan akses kecepatan yang lebih tinggi serta kemampuan transfer data lebih maksimal. Sebenarnya kabel Coaxial dan Twisted sudah cukup memenuhi standard namun tentunya perlu adanya inovasi terbaru dengan berbagai macam kelebihan.

Kecepatan akses yang tinggi dalam suatu jaringan pastinya menjadi hal yang paling dicari terutama untuk keperluan browsing di internet. Hal inilah yang melatarbelakangi kemunculan kabel Fiber Optik dan dalam sekejap langsung mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat.

Dalam artikel kali ini kami akan menjelaskan lebih dalam mengenai kabel Fiber Optik, meliputi pengertian Fiber Optik, fungsi, cara kerja serta kelebihan dan kekurangan dari Fiber Optik.
Pengertian Fiber Optik




Berbeda dari kabel lain yang membawa listrik, kabel Fiber Optik adalah jenis kabel yang berfungsi mengubah sinyal listrik menjadi cahaya dan mengalirkannya dari satu ke titik yang lain. Bahan utama dari kabel jenis Fiber Optik ini adalah dari serat kaca dan plastik yang sangat halus, bahkan lebih halus dari sehelai rambut manusia. Beda halnya dari kabel lain yang memakai bahan dari tembaga.

Terdapat 2 jenis mode transmisi yakni Single Mode yang memanfaatkan sinar laser sebagai media transmisinya dan Multi Mode yang menggunakan media LED. Biasanya jenis kabel Fiber Optik ini lebih sering dipakai pada suatu instalasi jaringan dengan kelas menengah hingga atas.

Fungsi Fiber Optik



Pada dasarnya fungsi dari kabel Fiber Optik sama seperti jenis kabel yang lain yakni menghubungkan antar komputer atau pengguna satu sama lain dan dalam lingkup jaringan tertentu.

Yang menjadi pembeda adalah kecepatan akses yang tinggi serta kemampuan transfer data lebih cepat. Untuk kecepatan pengiriman data bisa sampai kisaran Gigabit per detiknya. Selain itu karena tidak membawa listrik kabel jenis ini juga tida terpengaruhi gangguan elektromagnetik sehingga stabil dalam penggunaannya.

Namun tentunya dengan banyaknya kelebihan yang diperoleh tentunya harus dibayar lebih mahal, itulah sebabnya kabel jenis ini tidak dipakai oleh sembarangan orang. Biasanya perusahaan skala besar serta operator telekomunikasi yang lebih sering memilih menggunakan kabel Fiber Optik ini. Bahkan saat ini pun perusahaan pengembang Wi-Fi sudah mulai memakai Fiber Optik karena lebih cepat dan stabil.
Kelebihan dan Kekurangan Fiber Optik

Meskipun hadir dengan kemampuan lebih tinggi daripada jenis kabel yang terdahulu bukan berarti kabel Fiber Optik ini tidak memiliki kekurangan sama sekali. Dibawah ini kami jelaskan berbagai macam kelebihan serta kekurangan yang dapat anda peroleh jika menggunakan Fiber Optik :
Kelebihan Fiber OptikJenis kabel Fiber Optik ini memiliki kemampuan mengantarkan data dengan kapasitas besar serta jarak transmisi yang sangat jauh. Dengan kapasitas Gigabyte per detik maka memberikan kebebasan bagi perusahaan – perusahaan internet dan telepon memilih bandwith tinggi.
Meskipun memiliki kemampuan yang besar bentuk fisik dari kabel ini lebih kecil jika dibandingkan dengan jenis lain karena bahannya dari serat kaca dan plastik. Hal ini memungkinkan tersedianya ruang yang cukup besar.
Karena tidak menggunakan arus listrik kabel Fiber Optik ini bebas dari gangguan sinyal elektromagnetik, sinyal radio, serta mempunyai ketahanan yang cukup kuat juga sehingga banyak digunakan perusahaan – perusahaan besar.
Meskipun memiliki kecepatan akses yang tinggi namun tetap kemungkinan hilangnya data sangatlah rendah, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan validitas data.
Karena tidak menggunakan listrik maka kemungkinan adanya konsleting juga tidak akan terjadi, jadi dalam hal keamanan juga sangat terjamin.
Kekurangan Fiber OptikKekurangan terbesar dari kabel Fiber Optik adalah harganya yang cukup tinggi, hal ini sangatlah wajar mengingat bahan – bahan yang digunakan serta pemasangannya. Oleh sebab itu pengguna kabel jenis bukanlah sembarangan melainkan perusahaan atau penyedia jasa komunikasi yang memang menginginkan akses lebih cepat.
Selain memakan biaya besar pada saat pemasangan, untuk perawatan Fiber Optik pun juga memerlukan biaya yang tidak sedikit melihat alat – alat yang digunakan juga tidaklah murah.
Perhatikan juga penempatan kabel Fiber Optik, biasanya dipasang pada jalur yang berbelok atau yang memiliki sudut melengkung agar proses berjalannya gelombang bisa lebih lancar atau tidak terhambat.
Cara Kerja Fiber Optik




Sebelumnya sudah sempat dijelaskan bahwa kabel Fiber Optik tidak mengalirkan listrik namun cahaya. Listrik yang diperoleh dikonversikan menjadi sinyal cahaya dan dialirkan antar komputer yang terhubung dalam suatu jaringan skala besar. Hal ini menjadikan kabel Fiber Optik sangat cocok digunakan pada wilayah dengan banyaknya gangguan elektromagnetik.

Jika pada kabel Coaxial atau Twisted panjangnya kabel seringkali menjadi penghambat namun hal ini tidak berlaku bagi kabel Fiber Optik. Bahan baku yang terbuat dari serat kaca murni mampu membawa cahaya untuk mentransmisikan data secara terus menerus tanpa menghiraukan panjangnya kabel yang digunakan.

Intinya di dalam kabel Fiber Optik menggunakan cara kerja dengan memanfaatkan cermin untuk menghasilkan total internal reflection atau bahasa umumnya adalah refleksi total pada bagian serat kaca.

Itulah pengertian Fiber Optik yang perlu anda ketahui terutama jika anda ingin melakukan instalasi jaringan. Meskipun memiliki harga yang lumayan tinggi namun dengan melihat manfaat serta keuntungan yang diperoleh maka sangatlah wajar beberapa perusahaan besar lebih memilih jenis kabel ini.

Materi Hlookup Kelas VIII

Rumus Hlookup Excel - Jika sebelumnya kita menggunakan VLOOKUP untuk mencari data pada tabel berbentuk Vertikal, sekarang kita akan belajar ...